Saferiyusu Hulu, SH., M.Pd., C.P.EM. Legal Opinion Tentang Hak Cipta

BERLAYARINFO.com – PENDAPAT HUKUM (LEGAL OPINION)

Saferiyusu Hulu, SH., M.Pd., C.P.EM.

UNTUK KEPENTINGAN GEORGE

PERMASALAHAN (Problem Statament)

Awal persoalan karena ada dua orang bernama Geroge dan Robert saling mengaku sebagai Pencipta atau pemilik hak atas lagu berjudul “Ulang Tahunku”. Kedua orang tersebut saling mengklaim bahwa lagu yang berjudul “Ulang Tahunku”, telah selesai diciptakan oleh George pada 27 November 2019, begitu pula dengan sdr. Robert mengaku bahwa dialah yang menulis lagu tersebut semasa ia bekerja di Perusahaan entertaiment milik George antara 1 Januari 2018 sampai dengan 15 Desember 2019.

Permasalahannya adalah karena Robert menyanyikan lagu tersebut di pentas komersil, artinya bahwa Robert telah menggunakan lagu ulang tahunku sebagai cara menghasilkan uang. Robert bertindak tanpa memastikan legalitas Pencipta lagu Ulang Tahunku. Sementara George merasa dirugikan hak ekonominya karena lagu ciptaannya telah dinyanyikan di pentas komersil tanpa izin sebagai Pencipta oleh pihak lain. Isu Hukumnya yaitu Siapa sebenarnya Pencipta  lagu “Ulang Tahunku?

Pasal 31 UUHC telah menegaskan bahwa yang dianggap sebagai pencipta, yaitu Orang yang namanya disebut dalam Ciptaan, dinyatakan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan, disebutkan dalam surat pencatatan Ciptaan, dan/atau tercantum dalam daftar umum Ciptaan sebagai pencipta. Artinya bahwa yang dianggap Pencipta lagu hanya mereka yang disebut namanya pada catatan Dirjend KI. Legal opinion ini dapat memberikan gambaran bagi kita bagaimana pentingnya pendaftaran hak cipta.

 POSISI KASUS (Statement Of Facts)

Bahwa Pada tanggal 27 Nopember 2019, penyanyi George selesai menulis lagu barunya yang berjudul “Ulang Tahunku” dan mencatatkannya di Dirjen KI. Pada tanggal 5 Januari 2020 Robert menyanyikan lagu yang juga berjudul “Ulang Tahunku” di suatu pentas komersial. Dua lagu tersebut sangat mirip.  George menuduh Robert telah melanggar hak ciptanya ketika Robert menyanyikan lagu tersebut. Ternyata antara 1 Januari 2018 sampai dengan 15 Desember 2019  Robert bekerja di perusahaan entertainment yang dimiliki oleh George. Robert menyatakan bahwa dialah yang menulis lagu tersebut. George akhirnya menggugat Robert di Pengadilan Niaga.

DASAR HUKUM

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (selanjutnya disebut UUHC).

Mengenai Hak Ekonomi : Pasal 8 Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaannya

Larangan Penggunaan Hak Ekonomi Tanpa Hak : Pasal 9 ayat 2 “Setiap Orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta”. Dan Pasal 9 ayat 3 “Setiap Orang yang tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dilarang melakukan Penggandaan dan/atau Penggunaan Secara Komersial Ciptaan”.

Mengenai Pencipta dan Ciptaannya : Pasal 31. Yang dianggap sebagai pencipta, yaitu Orang yang namanya disebut dalam Ciptaan, dinyatakan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan, disebutkan dalam surat pencatatan Ciptaan, dan/atau tercantum dalam daftar umum Ciptaan sebagai pencipta.

Mengenai Surat tanda kepemilikan Hak cipta: Pasal 69. “Dalam hal Menteri menerima Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (4), Menteri menerbitkan Sertifikat atau surat pencatatan Ciptaan dan mencatat dalam daftar umum Ciptaan.

 Perdata  : Pasal 99 “Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Cipta atau produk Hak Terkait”.

Pidana : Pasal 113 ayat (2) UUHC 2014 yang menyatakan: Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

 ANALISA HUKUM

Hak Cipta yaitu Hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

UUHC Pasal 8 Menjelaskan bahwa Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaannya. Dimana pada tanggal 27 Nopember 2019, penyanyi George selesai menulis lagu barunya yang berjudul “Ulang Tahunku” dan mencatatkannya di Dirjen KI. Guna pencatatan itu agar mendapatkan kepastian perlindungan hukum atas hak ciptanya, sehingga selanjutnya dapat menikmati manfaat ekonomi terhadap lagu ciptaannya itu.

Ajaibnya pada tanggal 5 Januari tahun 2020 seorang mantan karyawan perusahaan entertainment milik George bernama Robert menyanyikan lagu Ulang tahunku di pentas komersial. Artinya tindakan Robert melaksanakan hak ekonomi orang lain tanpa izin, memenuhi unsur menggunakan lagu ulang tahunku secara komersil tanpa izin Pencipta. Perbuatan Robert tersebut diduga melanggar hak cipta sebagaimana diatur dalam UUHC Pasal 9 ayat 2 “Setiap Orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta”.

Larangan mengenai penggunaan hak cipta orang lain tanpa hak atau tanpa izin telah diuraikan dalam UUHC Artinya dengan menyanyikan lagu tersebut di pentas komersial Robet telah Pasal 9 ayat 3 “Setiap Orang yang tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dilarang melakukan Penggandaan dan/atau Penggunaan Secara Komersial Ciptaan”. melakukan penggunaan secara komersil tanpa izin Pencipta, telah melanggar UUHC Pasal 9 Ayat 3.

Robert mengaku bahwa dialah yang menulis lagu “ulang tahunku” saat bekerja di Perusahaan entertainment milik George. Pernyataan Robert tersebut muncul isu Hukum siapa Pencipta lagu “Ulang Tahunku” ? Karena belum ada putusan pengadilan mengenai siapa Pencipta atau pemegang hak atas lagu “Ulang Tahunku” maka demi kepastian Hukum perlu diuji secara Hukum siapa Pencipta lagu Ulang Tahunku.

Siapa Pencipta lagu “ Ulang Tahunku” ?

Pada tanggal 27 Nopember 2019, penyanyi George selesai menulis lagu barunya yang berjudul “Ulang Tahunku” dan mencatatkannya di Dirjen KI. Artinya bahwa George telah melakukan pencatatan atau pendaftaran lagu “Ulang Tahunku” sebagai hak ciptanya ke Dirjend KI,  nama George disebutkan dalam surat pencatatan Ciptaan.  Pasal 31. Yang dianggap sebagai pencipta, yaitu Orang yang namanya disebut dalam Ciptaan, dinyatakan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan, disebutkan dalam surat pencatatan Ciptaan, dan/atau tercantum dalam daftar umum Ciptaan sebagai pencipta.

George memiliki sertifikat pencatatan ciptaan. Dengan sertifikat itu secara sah George diakui oleh Negara sebagai Pencipta lagu “Ulang Tahunku”. Pasal 69. “Dalam hal Menteri menerima Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (4), Menteri menerbitkan Sertifikat atau surat pencatatan Ciptaan dan mencatat dalam daftar umum Ciptaan.

Robert merupakan karyawan di Perusahaan Entertaiment milik George.

Bahwa selama perancangan penciptaan lagu Ulang tahunku ternyata antara 1 Januari 2018 sampai dengan 15 Desember 2019  Robert bekerja di perusahaan entertainment yang dimiliki oleh George. Artinya bahwa semua proyek yang diciptakan di dalam perusahaan entertaiment milik George adalah menjadi hak Perusahaan.

Keadaan Robert atau status bekerja sebagai karyawan perusahaan entertaiment milik George diatur dalam UUHC Pasal 34 “Ciptaan dirancang oleh seseorang dan diwujudkan serta dikerjakan oleh Orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan Orang yang merancang, yang dianggap Pencipta yaitu Orang yang merancang Ciptaan”. Artinya Hak cipta tersebut pencipta adalah orang yang merancang ciptaan yaitu perusahaan meskipun dikerjakan oleh karyawan.

Sebab pelanggaran hak cipta oleh Robert, akibatnya George merasa dirugikan hak ekonominya sehingga menggugat Robert di pengadilan Niaga. Gugatan itu tentunya berdasarkan UUHC Pasal 99 “Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Cipta atau produk Hak Terkait”. Artinya bahwa George dapat menunut ganti rugi kepada Robert atas pelanggaran hak tersebut, tuntutan ganti rugi yang dimaksud dapat dilakukan melalui tuntutan perdata di pengadilan Niaga dan juga tuntutan pidana berupa delik aduan.

Pelanggaran Hak cipta dapat dimintai pertanggungjawaban pihak pelanggar hak, baik Perdata maupun Pidana.

Perdata. Pasal 99 “Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Cipta atau produk Hak Terkait”. Tata cara gugatan diatur dalam Pasal 100-101 UUHC.

Pidana. Pasal 119 UUHC menyatakan bahwa setiap lembaga manajemen kolektif yang tidak memiliki izin operasional dari menteri dalam melakukan kegiatan penarikan royalti dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1 miliar.

Pasal 113 ayat (2) UUHC 2014 yang menyatakan: Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 113 ayat (3) UUHC 2014 yang berbunyi: Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Berdasarkan Pasal 120 UU Hak Cipta, tindak pidana dalam UU Hak Cipta merupakan delik aduan, sehingga pelaku hanya dapat dituntut apabila pihak yang dirugikan mengajukan laporan. Dan bilamana antara terlapor dan pelapor  sudah terjadi Perdamaian maka laporan polisi dapat dicabut.

KESIMPULAN

Hukum Positif di Indonesia adalah kaidah hukum tertulis yang ada saat ini dan mengikat. Dalam UUHC Pasal 8 Menjelaskan bahwa Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta  dan Pasal 9 ayat 3. Pasal ini menegaskan larangan terhadap penggunaan hak ekonomi pihak lain tanpa izin.  Berkaitan dengan pasal tersebut diduga telah dilanggar oleh Robert, maka perlu diuji dengan bukti kepemilikan hak cipta.

Pasal 68 dan Pasal 69  menguraikan bahwa setiap orang termasuk George yang mendaftarkan atau mencatatkan hak ciptanya ke dirjend KI akan diberikan bukti pendaftaran berupa surat keterangan pencatatan ciptaan /sertifikat pendaftaran hak cipta, diakui sebagai pencipta lagu “Ulang Tahunku”. Sertifikat pencatatan hak cipta inilah bukti kuat bagi George nanti di pengadilan.

Tindakan Robert yang menggunakan secara komersil lagu ciptaan George merupakan pelanggaran hak cipta yang membawa kerugian bagi George, sehingga Robert dapat dituntut secara Perdata Pasal 99 UUHC. Juga dapat dituntut secara Pidana Pasal 119, Pasal 113 UUHC.

SARAN

Oleh karena itu untuk memperkuat hak cipta maka pencipta wajib mendaftarkan ciptaannya ke Dirjen KI. Dengan ini Kementerian Hukum dan HAM juga akan membantu para pemilik karya untuk membuktikan kepemilikan jika suatu hari kelak terjadi sengketa.

Kepada para calon karyawan maupun karyawan sebagai pencipta karya agar harus sangat teliti untuk melihat setiap klausul yang disodorkan perusahaan dalam bentuk kontrak kerja.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *